Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Thursday, August 18, 2011

Kisah Si Pitung : Jagoan Betawi Yang Sakti Mandraguna

0 comments
pitung pendekar betawiBetawi Oktober 1893. Rakyat Betawi di kampung-kampung tengah berkabung. Dari mulut ke mulut mereka mendengar si Pitung atau Bang Pitung meninggal dunia, setelah tertembak dalam pertarungan tidak seimbang dengan kompeni. Bagi warga Betawi, kematian si Pitung merupakan duka mendalam. Karena ia membela rakyat kecil yang mengalami penindasan pada masa penjajahan Belanda. Sebaliknya, bagi kompeni sebutan untuk pemerintah kolonial Belanda pada masa itu, dia dilukiskan sebagai penjahat, pengacau, perampok, dan entah apa lagi.

Jagoan kelahiran Rawa Belong, Jakarta Barat, ini telah membuat repot pemerintah kolonial di Batavia, termasuk gubernur jenderal. Karena Bang Pitung merupakan potensi ancaman keamanan dan ketertiban hingga berbagai macam strategi dilakukan pemerintah Hindia Belanda untuk menangkapnya hidup atau mati. Pokoknya Pitung ditetapkan sebagai orang yang kudu dicari dengan status penjahat kelas wahid di Betawi.

Kisah Mbah Maridjan Sang Juru Kunci Gunung Merapi Telah Tiada

0 comments
mbah maridjanSeribu pertanyaan dari publik tentang keberadaan Mbah Maridjan terjawab sudah. Juru kunci Gunung Merapi itu ikut gugur di pangkuan gunung penebar kesuburan itu. Amanah Sultan HB IX untuk menjaga gunung paling berbahaya di Indonesia itu, selesai sudah.

"Dilihat dari batiknya dan kopiah yang dipakai di kepalanya kita yakin (itu jenazah Mbah Maridjan)," kata petugas Tim SAR Yogyakarta, Suseno, saat ditemui di RS dr Sardjito, Yogyakarta, Rabu (27/10/2010). Mbah Maridjan ditemukan meninggal dalam posisi sujud di dapur. Luka bakar terdapat di tubuhnya. Bajunya robek-robek.

Nama Raden Ngabehi Suraksohargo atau yang lebih terkenal dengan panggilan Mbah Mardijan melambung seiring dengan peristiwa meletusnya Gunung Merapi, Yogyakarta, pada 2006 lalu.

Mbah Maridjan terkenal karena sebagai juru kunci Gunung Merapi, dia tidak mau mematuhi perintah untuk turun gunung oleh Sultan Hamengkubuwono X. Akibatnya, mata dunia pun terbelalak pada sosok renta yang sangat sederhana ini.

Ponimin : Kandidat Kuat Juru Kunci Gunung Merapi yang Baru

0 comments
ponimin juru kunci gunung merapiSosok Ponimin (50) bagi warga lereng Merapi bukan figur yang asing. Dia adalah orang "sakti" nomor dua setelah Mbah Maridjan. Selama ini dia dikenal sebagai "orang pintar" yang biasa dimintai bantuan warga Merapi.

Ponimin, dikenal sebagai pawang hujan, tempat konsultasi tentang hari baik, dan juga tokoh agama yang suka diminta warga untuk memimpin pengajian dan selamatan.

"Gusti Kanjeng Ratu Hemas meminta saya menggantikan Mbah Maridjan," ujar Ponimin saat ditemui wartawan di rumah dr Ana Ratih Wardani, di Kaliadem, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman.

Inilah Kakek 102 Tahun Berkekuatan Super

0 comments
kakek superSeorang kakek yang berusia 102 tahun ini masih memiliki fisik yang sehat dan kuat. Bahkan, dia masih mampu melakukan push-up dengan menggunakan kepalan tangannya.

Mantan petugas pos Shi Xiaochun dari Xiaoshan, Provinsi Zhejiang ini, juga mampu melakukan push-up dengan menggunakan tangan satu.

Pria tua tersebut selalu berlatih di rumahnya setiap hari, serta melakukan latihan olahraga tradisional China, Tai Chi.

Shi mengatakan, apa yang dilakukannya tersebut buah dari pekerjaannya dahulu. Dia mengatakan, bahwa dahulu

Inilah Anne Woods : Juara Wanita Terjelek di Dunia

0 comments
wanita terjelek diduniaJelek tapi bangga dan bersyukur. Itulah Anne Woods, wanita yang tercatat di Buku Rekor Guinness sebagai wanita terjelek di planet ini.

Anne Woods,sebenarnya sudah sebanyak 27 kali mendapat Mahkota Gurning di acara Egremont Crab di Cumbria, tapi dia namanya gagal tercatat di buku rekor. Tapi karena kesuksesannya untuk meraih juara sebanyak 27 kali ini, kini namanya tercatat di buku rekor sebagai muka terjelek.

Kejuaraan gurning ini diperkirakan sudah dilakukan sejak abad pertengahan di Inggris.

"Saya rasanya sangat senang akhirnya bisa diterima. Saya berpikir saat ini

Bian Que Sang Tabib Ajaib

0 comments
Seorang tabib ternama yang dijuluki Bian Que telah melakukan praktek pengobatan di Tiongkok dari mulai 2697 SM hingga 2598 SM. Menurut Shi Ji (Catatan Sejarah), Bian Que berasal dari Zhengdi, Kabupaten Bohai, Kerajaan Qi. Nama aslinya adalah Qin Yueren, yang dikatakan telah hidup selama 2.000 tahun.

Pada saat Qin Yueren mulai mengobati pasien-pasiennya, ia dikenal sebagai Bian Que, dan secara bertahap, karena semua orang mengenalnyanya sebagai Bian Que, hanya sedikit yang tahu nama aslinya.

Inilah Kisah Kewalian Syekh Magelung Sakti

0 comments
Arifin Syam adalah putra dari kepala bagian pembesar istana dibawah kekuasaan Raja Hut Mesir, beliau sejak bayi telah ditinggalkan oleh ayah bundanya kehadirat Allah SWT, dan akhirnya dibesarkan oleh seorang muslim yang taat, disalah satu kota terpencil bagian negara Syam.

Nama Arifin Syam sendiri diambil dari kota dimana beliau dibesarkan kala itu yaitu Negara Syam. Dalam keumuman manusia seusianya, Arifin Syam dikenal sangat pendiam namun pintar dalam segi bahasa bahkan saking pintarnya beliau sudah terkenal sejak usia 7 tahun dengan panggilan sufistik kecil dikalangan guru dan pendidik lainnya. Karena pintar inilah beliau banyak

Inilah Ramalan Thomas Alva Edison Seputar 2011

0 comments
thomas alva edisonSiapa tak kenal Thomas Alva Edison. Inovator besar AS ini adalah orang yang menemukan kamera, bohlam lampu, dan pembangkit listrik arus searah.

Pada 1911 Edison sempat diwawancarai oleh Miami Metropolis, dan diminta memprediksi bagaimana kondisi 100 tahun ke depan, yakni pada tahun 2011.

Seperti dikutip oleh Washington Post, Edison mengatakan bahwa di

Mengenal Ronggowarsito : Peramal Legendaris Indonesia

0 comments
Nama Raden Ngabehi Ronggowarsito memang sudah tidak asing lagi. Dia adalah seorang pejangga keraton Solo yang hidup pada 1802-1873. Tepatnya lahir hari Senin Legi 15 Maret 1802, dan wafat 15 Desember 1873, pada hari Rabu Pon. Pujangga yang dibesarkan di lingkungan kraton Surakarta ini namanya terkenal karena dialah yang menggubah Jangka Jayabaya yang tersohor hingga ke mancanegara itu. Hingga sekarang kitab ramalan ini masih menimbulkan kontroversi.

R. Ng. Ronggowarsito adalah bangsawan keturunan Pajang, dengan silsilah sebagai berikut :

Monday, August 15, 2011

Inilah Ai Weiwei, Pelukis 4 Dimensi Pertama Dari China !

0 comments


Saya teringat kembali dengan salah satu film favorit saya:

Wednesday, August 10, 2011

Sunan Drajat

0 comments
sunan drajatSemasa muda ia dikenal sebagai Raden Qasim, Qosim, atawa Kasim. Masih banyak nama lain yang disandangnya di berbagai naskah kuno. Misalnya Sunan Mahmud, Sunan Mayang Madu, Sunan Muryapada, Raden Imam, Maulana Hasyim, Syekh Masakeh, Pangeran Syarifuddin, Pangeran Kadrajat, dan Masaikh Munat. Dia adalah putra Sunan Ampel dari perkawinan dengan Nyi Ageng Manila, alias Dewi Condrowati. Empat putra Sunan Ampel lainnya adalah Sunan Bonang, Siti Muntosiyah, yang dinikahi Sunan Giri, Nyi Ageng Maloka, yang diperistri Raden Patah, dan seorang putri yang disunting Sunan Kalijaga. Akan halnya Sunan Drajat sendiri, tak banyak naskah yang mengungkapkan jejaknya.

Ada diceritakan, Raden Qasim menghabiskan masa kanak dan remajanya di kampung halamannya di Ampeldenta, Surabaya. Setelah dewasa, ia diperintahkan ayahnya, Sunan Ampel, untuk berdakwah di pesisir barat Gresik. Perjalanan ke Gresik ini merangkumkan sebuah cerita, yang kelak berkembang menjadi legenda.

Syahdan, berlayarlah Raden Qasim dari Surabaya, dengan menumpang biduk nelayan. Di tengah perjalanan, perahunya terseret badai, dan pecah dihantam ombak di daerah Lamongan, sebelah barat Gresik. Raden Qasim selamat dengan berpegangan pada dayung perahu. Kemudian, ia ditolong ikan cucut dan ikan talang –ada juga yang menyebut ikan cakalang.

Dengan menunggang kedua ikan itu, Raden Qasim berhasil mendarat di sebuah tempat yang kemudian dikenal sebagai Kampung Jelak, Banjarwati. Menurut tarikh, persitiwa ini terjadi pada sekitar 1485 Masehi. Di sana, Raden Qasim disambut baik oleh tetua kampung bernama Mbah Mayang Madu dan Mbah Banjar.

Konon, kedua tokoh itu sudah diislamkan oleh pendakwah asal Surabaya, yang juga terdampar di sana beberapa tahun sebelumnya. Raden Qasim kemudian menetap di Jelak, dan menikah dengan Kemuning, putri Mbah Mayang Madu. Di Jelak, Raden Qasim mendirikan sebuah surau, dan akhirnya menjadi pesantren tempat mengaji ratusan penduduk.

Jelak, yang semula cuma dusun kecil dan terpencil, lambat laun berkembang menjadi kampung besar yang ramai. Namanya berubah menjadi Banjaranyar. Selang tiga tahun, Raden Qasim pindah ke selatan, sekitar satu kilometer dari Jelak, ke tempat yang lebih tinggi dan terbebas dari banjir pada musim hujan. Tempat itu dinamai Desa Drajat.

Namun, Raden Qasim, yang mulai dipanggil Sunan Drajat oleh para pengikutnya, masih menganggap tempat itu belum strategis sebagai pusat dakwah Islam. Sunan lantas diberi izin oleh Sultan Demak, penguasa Lamongan kala itu, untuk membuka lahan baru di daerah perbukitan di selatan. Lahan berupa hutan belantara itu dikenal penduduk sebagai daerah angker.

Menurut sahibul kisah, banyak makhluk halus yang marah akibat pembukaan lahan itu. Mereka meneror penduduk pada malam hari, dan menyebarkan penyakit. Namun, berkat kesaktiannya, Sunan Drajat mampu mengatasi. Setelah pembukaan lahan rampung, Sunan Drajat bersama para pengikutnya membangun permukiman baru, seluas sekitar sembilan hektare.

Atas petunjuk Sunan Giri, lewat mimpi, Sunan Drajat menempati sisi perbukitan selatan, yang kini menjadi kompleks pemakaman, dan dinamai Ndalem Duwur. Sunan mendirikan masjid agak jauh di barat tempat tinggalnya. Masjid itulah yang menjadi tempat berdakwah menyampaikan ajaran Islam kepada penduduk.

Sunan menghabiskan sisa hidupnya di Ndalem Duwur, hingga wafat pada 1522. Di tempat itu kini dibangun sebuah museum tempat menyimpan barang-barang peninggalan Sunan Drajat –termasuk dayung perahu yang dulu pernah menyelamatkannya. Sedangkan lahan bekas tempat tinggal Sunan kini dibiarkan kosong, dan dikeramatkan.

Sunan Drajat terkenal akan kearifan dan kedermawanannya. Ia menurunkan kepada para pengikutnya kaidah tak saling menyakiti, baik melalui perkataan maupun perbuatan. ”Bapang den simpangi, ana catur mungkur,” demikian petuahnya. Maksudnya: jangan mendengarkan pembicaraan yang menjelek-jelekkan orang lain, apalagi melakukan perbuatan itu.

Sunan memperkenalkan Islam melalui konsep dakwah bil-hikmah, dengan cara-cara bijak, tanpa memaksa. Dalam menyampaikan ajarannya, Sunan menempuh lima cara. Pertama, lewat pengajian secara langsung di masjid atau langgar. Kedua, melalui penyelenggaraan pendidikan di pesantren. Selanjutnya, memberi fatwa atau petuah dalam menyelesaikan suatu masalah.

Cara keempat, melalui kesenian tradisional. Sunan Drajat kerap berdakwah lewat tembang pangkur dengan iringan gending. Terakhir, ia juga menyampaikan ajaran agama melalui ritual adat tradisional, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Empat pokok ajaran Sunan Drajat adalah: Paring teken marang kang kalunyon lan wuta; paring pangan marang kang kaliren; paring sandang marang kang kawudan; paring payung kang kodanan. Artinya: berikan tongkat kepada orang buta; berikan makan kepada yang kelaparan; berikan pakaian kepada yang telanjang; dan berikan payung kepada yang kehujanan.

Sunan Drajat sangat memperhatikan masyarakatnya. Ia kerap berjalan mengitari perkampungan pada malam hari. Penduduk merasa aman dan terlindungi dari gangguan makhluk halus yang, konon, merajalela selama dan setelah pembukaan hutan. Usai salat asar, Sunan juga berkeliling kampung sambil berzikir, mengingatkan penduduk untuk melaksanakan salat magrib.

”Berhentilah bekerja, jangan lupa salat,” katanya dengan nada membujuk. Ia selalu menelateni warga yang sakit, dengan mengobatinya menggunakan ramuan tradisional, dan doa. Sebagaimana para wali yang lain, Sunan Drajat terkenal dengan kesaktiannya. Sumur Lengsanga di kawasan Sumenggah, misalnya, diciptakan Sunan ketika ia merasa kelelahan dalam suatu perjalanan.

Ketika itu, Sunan meminta pengikutnya mencabut wilus, sejenis umbi hutan. Ketika Sunan kehausan, ia berdoa. Maka, dari sembilan lubang bekas umbi itu memancar air bening –yang kemudian menjadi sumur abadi. Dalam beberapa naskah, Sunan Drajat disebut-sebut menikahi tiga perempuan. Setelah menikah dengan Kemuning, ketika menetap di Desa Drajat, Sunan mengawini Retnayu Condrosekar, putri Adipati Kediri, Raden Suryadilaga.

Peristiwa itu diperkirakan terjadi pada 1465 Masehi. Menurut Babad Tjerbon, istri pertama Sunan Drajat adalah Dewi Sufiyah, putri Sunan Gunung Jati. Alkisah, sebelum sampai di Lamongan, Raden Qasim sempat dikirim ayahnya berguru mengaji kepada Sunan Gunung Jati. Padahal, Syarif Hidayatullah itu bekas murid Sunan Ampel.

Di kalangan ulama di Pulau Jawa, bahkan hingga kini, memang ada tradisi ‘’saling memuridkan”. Dalam Babad Tjerbon diceritakan, setelah menikahi Dewi Sufiyah, Raden Qasim tinggal di Kadrajat. Ia pun biasa dipanggil dengan sebutan Pangeran Kadrajat, atau Pangeran Drajat. Ada juga yang menyebutnya Syekh Syarifuddin.

Bekas padepokan Pangeran Drajat kini menjadi kompleks perkuburan, lengkap dengan cungkup makam petilasan, terletak di Kelurahan Drajat, Kecamatan Kesambi. Di sana dibangun sebuah masjid besar yang diberi nama Masjid Nur Drajat. Naskah Badu Wanar dan Naskah Drajat mengisahkan bahwa dari pernikahannya dengan Dewi Sufiyah, Sunan Drajat dikaruniai tiga putra.

Anak tertua bernama Pangeran Rekyana, atau Pangeran Tranggana. Kedua Pangeran Sandi, dan anak ketiga Dewi Wuryan. Ada pula kisah yang menyebutkan bahwa Sunan Drajat pernah menikah dengan Nyai Manten di Cirebon, dan dikaruniai empat putra. Namun, kisah ini agak kabur, tanpa meninggalkan jejak yang meyakinkan.

Tak jelas, apakah Sunan Drajat datang di Jelak setelah berkeluarga atau belum. Namun, kitab Wali Sanga babadipun Para Wali mencatat: ”Duk samana anglaksanani, mangkat sakulawarga….” Sewaktu diperintah Sunan Ampel, Raden Qasim konon berangkat ke Gresik sekeluarga. Jika benar, di mana keluarganya ketika perahu nelayan itu pecah? Para ahli sejarah masih mengais-ngais naskah kuno untuk menjawabnya.

Beliau wafat dan dimakamkan di desa Drajad, kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Tak jauh dari makam beliau telah dibangun Museum yang menyimpan beberapa peninggalan di jaman Wali Sanga. Khususnya peninggalan beliau di bidang kesenian.

Peziarah di Makam Sunan Drajat Membludak Saat Ramadan

Memasuki bulan Ramadan, jumlah peziarah di makam Sunan Drajat, Paciran Lamongan mengalami peningkatan. Para peziarah ini tidak hanya datang dari Kota Soto melainkan juga dari kota-kota di Jatim dan Jateng.

Bagi mereka, ziarah ke makam salah satu wali songo ini bisa memberikan satu kedamaian batin tersendiri.

Menurut juru kunci makam, Sunardi, makam Sunan Drajat tidak pernah sepi apabila memasuki bulan suci Ramadan. "Kalau Ramadan, peziarah lebih memilih berziarah malam hari seusai tarawih,"

Sunardi membandingkan, kalau pada hari biasa hanya ada 5 pengunjung atau 5 peziarah, maka pada bulan ramadan peziarah bisa mencapai ratusan orang. "Mereka ini kebanyakan datang baik sendiri-sendiri maupun berombongan," ungkapnya.

Menurut Rustandi, salah seorang peziarah di makam Sunan Drajat, berziarah di bulan ramadan terasa mendatangkan kedamaian tersendiri bagi batinnya. "Bahkan, tak jarang saya di sini hingga menunggu waktu berbuka," jelasnya.

Di sela-sela menunggu buka tersebut, lanjut Rustandi, para peziarah biasanya memanjatkan doa dan mengenang kembali jasa-jasa sang sunan dalam menyebarkan agama Islam sambil membaca Al Quran.

Layaknya makam para raja, makam Sunan Drajat juga terletak di dataran tinggi. Kompleks makam Sunan Drajat terletak di Desa Drajat, Kecamatan Paciran Lamongan. Di pemakaman seluas 4 Hektar ini dimakamkan juga sejumlah santri dan kerabat Sunan.

Di pemakaman ini pula, tertera tulisan dalam bahasa Jawa yang selama ini terkenal sebagai dawuh sunan Drajat. Tulisan ini memiliki makna, berikan tongkat kepada orang buta, berikan makan kepada yang kelaparan, berikan pakaian kepada yang telanjang dan berikan payung kepada yang kehujanan.

Sumber : kaskus.us

Profesor Hembing Meninggal Dunia

0 comments
prof hembing pakar herbalSalah satu ahli herbal Indonesia, Profesor Hembing Wijayakusuma atau sering disapa Prof Hembing meninggal dunia di RS Medistra, Senin (8/8/2011) pukul 01.30 WIB (dini hari). Kepergiannya begitu mendadak, bahkan hingga malam ini kabar tersebut belum sampai ke sesama dokter herbal.

Kabar meninggalnya Prof Hembing dibenarkan salah seorang staf RS Medistra, Hendro saat dihubungi detikHealth Senin malam. Hal yang sama juga disampaikan oleh sekretaris Prof Hembing, Ibu Yama kepada detikHealth.

"Iya, benar meninggal di RS Medistra hari ini pukul 01.30 (dinihari) dan sudah dimakamkan tadi siang," ungkap Ibu Yama saat dihubungi detikHealth.

Meski begitu, sejumlah pakar herbal justru mengaku belum mendengar kabar mengejutkan tersebut.

"Siapa, Prof Hembing meninggal? Saya malah belum dengar itu. Kapan? Hari ini?" kata dr Hardhi Pranata, SpS, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia kepada detikHealth.

Prof Hembing yang meninggal di usia 71 tahun ini dikenal sangat peduli terhadap kelestarian herbal asli Indonesia ini meninggal di RS Medistra Jakarta Selatan pada pukul 01.30 WIB (dini hari), Senin (8/8/2011). Belum diketahui pasti apa penyebab meninggalnya dokter yang memiliki 3 orang anak tersebut.

Selain mendadak, kepergian Prof Hembing tampaknya juga belum terlalu banyak dipublikasikan. Salah satu orang yang cukup dekat dengan Prof Hembing, Rachmawati Soekarnoputri saat dihubungi detikHealth juga mengaku belum mendengar kabar tersebut.

"Terakhir ketemu dengan Prof Hembing pada November 2010, waktu acara wisuda di Universitas Bung Karno," ungkap Rachmawati, salah satu anak dari proklamator kemerdekaan Indonesia, Ir Soekarno.

Ketika Universitas Bung Karno didirikan, Rachmawati pernah menganugerahkan gelar Dewan Kurator dan senat guru besar kepada Prof Hembing.

Sebagai pakar yang sangat peduli terhadap kelestarian herbal Indonesia, Prof Hembing sering mendapat penghargaan. Di antaranya Bintang Jasa Utama dari pemerintah dan Penghargaan Keanekaragaman Hayati dari Menteri Lingkungan Hidup.

Di level internasional, Prof Hembing juga pernah menerima penghargaan dari Spanyol pada tahun 1987. Sementara atas jasanya mengembangkan terapi sengatan lebah, ia juga diberi penghargaan oleh Menteri Kehutanan dan Perkebunan Republik Indonesia.

Cita-cita Terakhir Hembing Bikin Rumah Sakit Herbal

Totalitas Profesor Hembing Wijayakusuma untuk menekuni herbal dibuktikan hingga saat-saat terakhir hidupnya. Sebelum meninggal pada Senin 8 Agustus 2011, Hembing mewariskan desain Rumah Sakit Herbal dan meminta anak-anaknya untuk mewujudkannya.

Gagasan untuk mendirikan rumah sakit itu muncul karena di Indonesia ilmu pengobatan ala barat dengan ala timur berjalan sendiri-sendiri. Salah satu cita-cita Hembing adalah menyelaraskan keduanya agar bisa berjalan beriringan.

Anak kedua Hembing, dr Ipong Wijayakusuma mengatakan bahwa desain rumah sakit yang diwariskan oleh ayahnya sudah sangat matang. Sebelum meninggal, Hembing juga sudah sempat mempelajari aturan-aturan yang berhubungan dengan pendirian rumah sakit.

"Sebenarnya saya yang disuruh cari lahan, tapi keburu meninggal. Desainnya sudah jadi, pintu masuknya mau seperti apa lalu di depan ada patung Hembing," ungkap dr Ipong, dokter yang saat ini berdinas di Mabes Polri saat ditemui detikHealth di The Hembing Center, Petamburan Jakarta Pusat, Selasa (9/8/2011).

Untuk mewujudkan cita-cita ayahnya, dr Ipong merasa optimistis akan terlaksana. Tentunya tidak sendirian, ia juga akan melibatkan kedua saudaranya yakni Mochtar Wijayakusuma dan Valencia Wijayakusuma, serta anaknya sendiri yang tahun depan diperkirakan sudah akan lulus pendidikan dokter di Universitas Tarumanegara.

Bukan hanya rencana mendirikan rumah sakit, Hembing juga mewariskan beberapa kebun obat yang salah satunya terletak di Sukabumi, Jawa Barat. Menurut dr Ipong, kebun yang luasnya berhektar-hektar tersebut ditanami bebagai herbal termasuk yang jadi andalan yakni kumis kucing.

Untuk menjaga keaslian obat-obat untuk pasiennya, Hembing memang tidak pernah mengambil bahan herbal dari tempat lain. Tanaman yang dipanen dari kebun obat tersebut diolah sendiri di pabriknya yang terletak di Tangerang, Banten.

Prof Hembing yang lahir di Medan pada 10 Maret 1940 ini meninggal di usia 71 tahun. Selepas SLA (Setingkat SMA), Hembing muda meninggalkan tanah kelahirannya di Medan untuk belajar ilmu kedokteran di Hong Kong yakni di Chinese Acupuncture Institute dan Chinese Medicine Institute.

Sejak lulus dari Hong Kong, ia melanjutkan pendidikannya di beberapa tempat antara lain sebagai berikut:
- 1976 dikukuhkan sebagai profesor guru besar Oriental Medicine di Wongkwang University, Korea Selatan dengan pidato pengukuhan berjudul 'Curing with Acupuncture'.
- 1985 menerima gelar Doctor of Phylosophy (Ph.D.h.c) dari Medicine Alternativa Copenhagen.
- 1986 menerima gelar Doctor of Science (D.Sc.h.c) dari Medicina Alternativa di Malaga, Spanyol.
- 1995 dikukuhkan sebagai guru besar di Dongshin University, Korea Selatan.

Sumber : detik.com

Followers

 
http://blog---food.blogspot.com